Search User Login Menu
Tools
Close

Harga Batu Bara Ambles Lagi, Ada Apa Ini?
SF
/ Categories: Energi

Harga Batu Bara Ambles Lagi, Ada Apa Ini?

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara ditutup melemah pada perdagangan kemarin. Katalis positif yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

Baru saja ditutup menguat akhir pekan kemarin, harga batu bara kontrak futures ICE Newcastle kembali terkoreksi pada penutupan perdagangan Senin (2/12/2019). Harga batu bara melemah tipis 0,14% ke level US$ 69,25/ton.

Sebelumnya harga batu bara mengawali tren koreksinya pada Jumat 22 November 2019. Pada periode 21-28 November 2019, harga batu bara terkoreksi sebesar 3,36% secara point to point.

Katalis positif yang dinanti tak kunjung datang, yang beredar justru kabar yang kurang mengenakkan. Baru-baru ini perusahaan tambang batu bara terbesar di India, Coal India mengumumkan produksi batu bara bulan November turun 3,9% menjadi 50,02 juta ton. Produksi pada bulan yang sama tahun lalu mencapai 52,06 juta ton.

Perlu diketahui bersama Coal India merupakan BUMN India dan menjadi perusahaan tambang batu bara terbesar ke-enam di dunia. Coal India berkontribusi terhadap 82% dari total produksi negeri India.

Penurunan produksi batu bara Coal India terjadi seiring dengan penurunan konsumsi batu bara India. Konsumsi batu bara India sejak April tahun ini memang mengalami penurunan. Penurunan ini tercatat merupakan penurunan pertama dalam periode 10 tahun terakhir.

Penurunan konsumsi batu bara terjadi akibat peningkatan suplai energi alternatif berupa tenaga air dan tenaga nuklir. India yang diguyur hujan terlebat dalam 25 tahun terakhir menyebabkan pasokan air jadi melimpah.

Hasilnya pembangkit listrik tenaga air menghasilkan 96 terawatt-hours (TWh), 9,8% lebih tinggi dari ketetapan Central Electricity Authority (CEA) India. Output listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir juga naik 11,45% melebihi rencana CEA.

Di samping peningkatan output dari sumber energi alternatif. Kondisi perekonomian India yang melambat turut mempengaruhi konsumsi listrik. Sejak April-September 2019,daya listrik yang dihasilkan rencananya mencapai 680 TWh. Namun nyatanya jauh lebih rendah sekitar 659 TWh.

Penurunan produksi ini seharusnya dapat meningkatkan impor batu bara untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun nyatanya konsumsi listrik dan batu bara pun terus mengalami penurunan.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa untuk India akan mulai mengimpor batu bara kokas dari Rusia bulan ini untuk kebutuhan industri baja dalam negerinya. Beberapa produsen baja India telah melakukan tes sampel batu bara kokas asal Rusia.

Sebelumnya, kebutuhan batu bara kokas India dipasok dari Australia. Namun dalam tiga tahun terakhir, impor batu bara kokas dari Australia terus mengalami penurunan mengutip data Refinitiv.  

TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/hps)

Previous Article Xiaomi Klaim Jual 10 Juta Redmi Note 8 Selama 3 Bulan
Next Article Kebutuhan Gas di Ibu Kota Baru Diproyeksi Naik 92 Persen
Print
6 Rate this article:
No rating

Please login or register to post comments.

Back To Top